Kalimat “bersama selamanya” sangat cocok dengan kita, ya?

eia
2 min readJan 17, 2024

--

Fase dalam kehidupan adalah bertemu dan berpisah. Perihal kedatangan tak terduga dan kehilangan yang tiba-tiba. Mereka bilang, rasa kehilangan dari kepergian seseorang adalah cara manusia belajar tentang keikhlasan, tentang ketabahan. Tapi, adakah hati manusia yang ikhlas dan tabah ketika ditinggalkan dalam jangka waktu selamanya?

“Aku nggak minta aneh-aneh untuk kado ulang tahunku saat ini, aku cuma mau kita selamanya. Selamanya yang punya makna segalanya, sepanjang-panjangnya.”

Pada kenyataannya, aku harus menelan pahit-pahit kalimatnya. Ia yang berjanji tak akan kemana-mana, pergi tanpa aba-aba. Yang berkata akan selalu menemani kemana saja, berakhir aku sendirian menyusuri kota. Yang janjinya masih terpatri dalam kepala, akhirnya pergi tanpa sepatah kata.

Aku sudah menyiapkan segala bentuk perayaan patah hati jika saja kehilangan mampir menghampiri. Tapi aku juga tidak mengira akan secepat ini. Aku bahkan belum sempat menagih segala janji; perihal jalan-jalan menyusuri kota pada malam hari, membeli gulali warna-warni, merayakan pesta ulang tahun dengan kue kesukaan kami.

“Aku nggak akan kemana-mana, mau sampai umur 90 pun, kita akan tetap bersama.”

Kalimat yang kembali terputar saat aku menangisi fotomu memegang kue dengan lilin dua puluh lima. Kita mungkin masih bersama meski kamu yang telah tiada. Saling menjaga meski terhalang dunia. Kamu yang menjelma menjadi bulan paling terang di atas sana, sedang aku yang lebih giat berdoa agar kamu tenang di surga. Kita masih bisa jalan-jalan bersama, kamu yang berjalan menyusuri taman surga, sedang aku yang kembali pada tempat kita mengukir bahagia. Kita dulu pernah bahagia bersama-sama, sampai akhirnya kamu pergi meninggalkan luka yang bekasnya tak akan pernah hilang.

“Kamu boleh sedih kalau barang favorit mu hilang. Kamu boleh menangis kalau temanmu punya teman baru. Tapi jangan terlalu lama. Kamu tahu kan, kehidupan akan terus berjalan tanpa peduli perasaan setiap manusia. Kamu harus tetap hidup meski kehilangan dan kepergian membuat kamu hampir mati diserangnya. Kamu hanya perlu menyiapkan hati yang lebih luas, lalu rasa sakit perihal kehilangan dan kepergian akan hilang.”

Aku melanjutkan hidup seperti yang kamu katakan. Mengais sisa kenangan yang pernah kita rangkai dengan indah agar rasanya kamu tetap ada. Aku kembali melanjutkan hidup untuk segala mimpi yang kita punya. Untuk segala janji yang pernah terucap. Aku akan tetap hidup, dengan syarat kamu harus menjagaku dari atas sana. Aku akan menemui bulan malam ini dan berbicara padanya, bahwa aku merindukan teman baikku yang sudah bahagia di surga-Nya.

Bulanku! Tolong jaga aku selagi kamu menikmati gulali di surga. Tolong katakan pada Tuhan, bahwa aku akan menjadi sebaik-baiknya manusia yang hatinya sudah sangat lapang perihal kehilangan dan kepergian. Kita akan bersama-sama untuk selamanya.

Sign up to discover human stories that deepen your understanding of the world.

Free

Distraction-free reading. No ads.

Organize your knowledge with lists and highlights.

Tell your story. Find your audience.

Membership

Read member-only stories

Support writers you read most

Earn money for your writing

Listen to audio narrations

Read offline with the Medium app

--

--

eia
eia

No responses yet

Write a response